Wednesday, January 28, 2015

THE SECRET MISSION - Part 1

Hiroshima Atomic Bomb Building

 Bab 1

Cahaya matahari terik memasuki celah kelopak mataku, suara kendaraan yang bising dan bau tempat sampah yang tidak sedap membuatku terbangun dari mimpi indahku.
Aku melihat ke kanan dan ke kiri, berusaha mengingatkan diri apa yang telah terjadi.
Aku mengusap kencang kelopak mataku dan akhirnya dapat  mengingat apa yang telah terjadi sebelum aku terlelap tidur.
“Miss ? Up ! Up !” Tiba-tiba ada pria berteriak kepadaku. Pria tua itu berambut putih keabu-abuan membawa sapu, dia mengayunkan tangannya ke atas dan ke bawah berulang-ulang kali, menyuruhku bagun dari tempat tidurku. Spontan aku berdiri tegak dan bergerak menjauhi tempat tidurku tadi. Pria tadi pun menggeser pintu tokonya. Aku melihat jam tanganku, ternyata sudah jam 10 pagi. Pantas saja toko sudah mulai berjualan.
Aku membersihkan bajuku yang terlihat kotor karena jalanan yang berdebu, lalu berjalan menjuju stasiun.
Oh Hi, namaku Abigail Smith, biasa dipanggil Abby atau Abs. Umurku 18 tahun. Hobiku travelling a.k.a jalan-jalan. Dengan hobiku ini, aku bisa mengetahui keadaan tempat lain dan mendapat banyak pengalaman berharga dari situ. Walaupu aku suka travelling, aku pasti selalu menghemat dalam pengluaran sehari-harinya. Contohnya tadi malam, hostel/motel-motel yang murah sudah penuh, jadi aku terpaksa tidur dijalan deh !  biasanya aku memang sudah merencanakan dimana tempat untuk menginap, tetapi 3 hariku di Tokyo ini, sangat tidak di rencanakan.
Setelah sampai di stasiun, aku langsung membeli air putih dan sepotong roti untuk sarapan. Harganya sangat murah hanya sekitar 150 yen. Aku mengabiskan rotiku dengan cepat dan berlari mengejar subway  jurusan Shibuya.
Pintu subway tertutup pas sesudah aku masuk. Aku langsung menempati kursi yang kosong bersebelahan dengan anak perempuan jepang. Dia melihatku lalu tersenyum. 
“Hi my name is Haruna.” Ucapnya berani sambil mengulurkan tangannya.
“Hello Haruna. My name is Abby. It’s nice to meet you.” Ucapku menjabat tangannya. Orang jepang memang ramah kepada siapa saja. Itu salah satunya penyebabku untuk datang ke Jepang lagi.
Haruna tersenyum, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke kursi subway. Aku kembali melihat ke jendela subway untuk menikmati betapa indahnya negeri sakura ini.
2 stasiun berlalu, akhirnya subway tiba juga stasiun tujuanku, Shibuya. Aku bergegas keluar dari kereta dan berjalan menuju patung Hatchiko, tempat pertemuan yang paling diminati di Jepang.
Setelah puas berfoto-foto bersama si patung  anak anjing bersejarah ini, aku pergi membeli postcard 3D bergambar patung Hatchiko di toko buku di sekitar patung Hatchiko. Aku memang sangat suka mengoleksi postcard atau kartu pos dari sebuah daerah. Jadi, setiap aku mengunjungi suatu tempat, aku pasti menyempatkan diri untuk membeli satu lembar kartu posnya.
Setelah berbelanja, aku keluar dari toko buku itu, lalu mengecek handphoneku. Ternyata ada 1 SMS dari temanku.
From : Stephanie si anak emak <3
ABBBYYYYY SI ANAK BABEH !! AKU DI HATCHIKO !! DIMANA KAMUU ?
Received  : 10:56
To : Stephanie si anak emak <3
STEPHHHHHH SI ANAK EMAAAK BENTAR LAGI NYAMPE INI LAGI BELI POSTCARD ! BIASAA…. :D SEBENTAR LAGI AKU DI SANA TUNGGU SAJA !! J
Sent : 10:58

Melihat pesan dari steph, teman kecilku, aku langsung bergegas kembali ke patung Hatchiko dan mencarinya disana.
Suasana di patung Hatchiko pada pagi ini sangat ramai, mencari Steph pun menjadi lebih rumit. Aku memutuskan untuk meneleponnya dan bertemu tepat di depan patung Hatchiko. Tak beberapa lama, Steph muncul dengan remaja pria berambut coklat, tubuhnya yang tinggi membantu steph mengangkat barang belanjaan bawaannya.
“ABBYYY !!” sorak Steph dari jauh.
“STEPH !!” Sorakku sambil memeluk badan mungilnya dengan erat. Sudah lama sekali aku tidak merasakan pelukan hangatku bersama Steph. Aku dan Steph adalah teman lama, hobiku dan hobi Steph sama, yaitu travelling. Kebetulan Steph juga sedang mengunjungi Tokyo, jadi ia memutuskan untuk menemuiku di Shibuya.
“Abs, ini kakakku, Lucas Johnshon.” Ucap Steph memperkenalkkanku dengan lelaki berambut coklat tadi.
“Panggil aku Luke saja. Senang bertemu denganmu.” Dia tersenyum sambil mengulurkan tangan kanan gagahnya.
“Albigail Smith. Panggil aku Abby atau Abs. Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu, Luke.”  Aku ikut tersenyum dan menjabat tangannya.
“Abby, apakah kau keberatan jika kakakku pergi bersama kita ? Sudah kubilang, kau seharusnya diam di rumah. Kau ini merepotkan saja.” Ucap Steph mengacungkan jari telunjuknya ke arah Luke lalu menyilangkan kedua lengannya.
“Kau justru yang merepotkan, barang belanjaanmu saja aku yang bawa.” Bantah Luke tidak mau kalah. Lucu sekali rasanya melihat mereka yang bertengkar. Karena aku adalah anak tunggal, melihat adik-kakak seperti ini membuatku bersemangat untuk mengelilingi kota ini bersama mereka.
“Sudahlah.. tidak apa-apa jika kalian ikut bersamaku. Aku tidak keberatan selama kalian tidak membunuh satu sama lain karena bertengkar.” Ucapku, setengah terkikik sambil memeluk mereka berdua.
“Tenang saja, abs. Aku tidak akan membunuh adik kecilku ini. Kalau dia tidak ada, nanti rumahku jadi sepi karena tidak ada yang mengoceh lagi.” Canda Luke menyubit pipi adik kecilnya.
“Aku bukan ‘adik kecilmu’ kau hanya berbeda 2 bulan dariku.” Ucap Steph memajukan bibir bawahnya lalu berjalan memasuki stasiun Shibuya. Aku dan Luke hanya tertawa dan mengikutinya dari belakang. Sesaat ketika aku sedang asyik tertawa, aku merasa ada seseorang yang mengikuti kami dari belakang, ketika aku menoleh ternyata tidak ada. Mungkin hanya perasaanku saja ya ?
Benar kan ?


 


“Kakak ! Ayo pergi beli ice cream duluuuuu.” Pinta Steph menarik-narik lengan kakaknya.
            “Gak mauuuuu ! Aku kehabisan uang, dari tadi kau terus-terusan meminta uang.” Ucap Luke, berusaha melepaskan tangan adiknya.
            “Tapi aku haus, cuaca di Hiroshima sangatlah panas !” Steph belum menyerah membujuk kakaknya. Aku hanya tertawa pelan sambil berjalan mengikuti mereka.
            Siang ini, aku, Steph, dan Luke sedang berjalan-jalan mengelilingi kota bersejarah di Jepang yaitu Hiroshima. Kota ini hancur diserang bom atom pada tanggal 6 Agustus 1945 hampir bersamaan dengan kota lain di Jepang, yaitu Nagasaki. Di kota ini terdapat tren yang dapat membantu para pengunjung untuk mengelilingi Hiroshima. Sekarang kami sedang berada di salah satu gedung yang berhasil selamat dari serangan bom atom. Gedung ini sengaja tidak di renovasi atau dibetulkan kembali. Tujuannya agar dapat dijadikan sejarah penting bagi seluruh umat manusia.
Aku, Steph dan Luke asyik mengabadikan momen penting ini. Steph bertugas untuk merekam, aku dan Luke bertugas menjepret photo. Rencananya, video dan photo-photo ini, akan kami masukan ke blog kami agar bisa dilihat oleh traveler lainnya.
Setelah puas menjepret sana-sini, seperti biasa, kami pergi ke toko yang menjual post card dan membeli post card bergambar gedung bersejarah di Hiroshima. Setelah selesai berbelanja, kami memutuskan untuk beristirahat sambil makan siang sejenak di bawah pohon. Entah mengapa, lagi-lagi, aku merasakan ada yang mengawasi kami, dan lagi-lagi pula, dugaanku salah.
“Steph, Luke, apakah kalian merasa ada yang mengawasi kita ?” Aku bertanya setengah berbisik.
“Tidak.” Jawab Steph singkat dengan mulut penuh dengan kunyahan roti sandwich.
“Bagaimana denganmu Luke ?” Aku bertanya kepadanya, mungkin saja dia merasakan hal yang sama
“Hayalanmu saja itu.” Jawab Luke sambil mengambil botol minumya lalu meneguknya perlahan.
Apakah benar ini hanya hayalanku ?
Mungkin Luke benar.
Aku menggelengkan kepalaku dan membuang segala pikiran anehku, lalu melahap makan siangku.
“Kak, Abs, aku mau ke toilet dulu, ya. Jangan ditinggalin. Awas lho, ya.” Ucap Steph setengah mengancam, lalu berlari menuju toilet terdekat. Aku tertawa kecil, lalu melanjutkan makan siangku sambil mengobrol bersama Luke. Luke orangnya lucu, ramah dan juga penyayang, apalagi dengan adiknya. Hobinya menulis dan main basket, umurnya 18 tahun, sama seperti aku dan Steph, hanya saja Luke lahir bulan Februari, sedangkan aku dan Steph lahir dibulan Mei.
Tak terasa, aku dan Luke sudah 45 menit mengobrol, tetapi Steph belum keluar dari toilet juga. Tentu saja aku menjadi khawatir. Tapi, Luke menenangkan diriku. Katanya Steph memang lama kalau buang air kecil di toilet umum. Aku pun mengangguk setuju lalu kembali duduk dengan tenang.
Satu jam lebih lima belas menit berlalu, lagi-lagi Steph belum keluar dari toilet. Aku mulai panik dan bertekad untuk menyusul Steph ke toilet ditemani Luke.
“Steph ?? Dimana kau ?” Hening, tidak ada jawaban. Aku berjalan pelan membuka pintu pertama, ternyata kosong.
Bilik kedua, kosong.
Bilik ketiga, kosong juga.
Bilik keempat….. kosong !
Dimana dia ?!
Aku melihat telepon Steph tergeletak di lantai bilik terakhir. Aku mengambilnya lalu berlari panik keluar dari toilet lalu memaggil Luke. Luke bergegas datang menghampiriku lalu menanyakan apa yang terjadi.
“Dimana Steph ?” tanyanya khawatir.
“Steph hilang ! Steph hilang, Luke ! Aku hanya menemukan teleponnya…” Ucapku menangis, lalu meletakkan telepon Steph di tangan Luke.
“Baiklah kau tunggu di sini. Aku akan mencarinya.” Luke berlari meninggalkan aku sendirian berama barang bawaan kami.
Sudah kuduga. Pasti ada yang mengikuti kami ! Tapi Steph dan Luke tidak percaya !
 Aku berhenti menangis ketika akhirnya melihat Luke muncul dengan jaket Steph yang penuh darah.
“Aku tidak menemukan Steph, tapi aku menemukan jaketnya di pinggir sungai.” Ucap Luke lesu sambil menunjukkan jaket  Steph.
“Bagaimana ini..?” tanyaku, mengusap air mata di pipiku.
“Entahlah… aku sudah mencoba mengubungi kepolisian tapi Handphoneku tidak memiliki pulsa, Handphone Steph baterainya habis, bagaimana dengan HP milikmu ?” Tanya Luke. Aku mengambil HP milikku lalu mengecek pulsanya. Nihil. Pulsaku terkuras habis setelah melepon Steph waktu di Shibuya.
“Pulsaku juga habis. Kita mesti gimana ?”
 “Ayo kita coba memanggilnya lewat spiker. Sebaiknya kau iku aku.” Ucapnya membantuku berdiri.
Aku dan Luke langsung berjalan menuju bagian informasi turis.
“PERHATIAN. BAGI ANDA YANG BERNAMA STEPHANIE JOHNSHON. ATAU ANDA YANG MELIHAT GADIS BERUMUR 18 TAHUN  BERAMBUT IKAL PANJANG BERWARNA COKLAT, MEMAKAI CELANA JEANS HITAM, BAJU HIJAU BERCORAK BUNGA MERAH, DAN MEMAKAI SEPATU HIGH HEELS, SILAHKAN HUBUNGI KAMI DI RUANG INFORMASI TURIS. TERIMAKASIH.” Ucap Luke mengumumkan dari mic ruang informasi turis ketika kami sampai di sana.
“Sekarang kita hanya tinggal menunggu kabar. Kuharap kita bisa menemukannya.” Ucap Luke putus asa lalu duduk di sofa dekatnya.
“Ayolah Luke jangan menyerah, kita tidak bisa diam duduk manis di sini saja ! kita harus meminta tolong polisi atau pergi mencarinya ! Steph masih diluar sana, ketakutan. Dia butuh pertolongan kita, Luke !” teriakku memohon kepadanya. Kita harus melakukan sesuatu selain berdoa dan menunggu. Luke menatapku lalu memainkan jemarinya.
“Entahlah Abs.. Aku takut.” Ucapnya pelan, hamper tidak terdengar.
“Ayolah kau pasti bisa. Kita pasti bisa menemukan Steph. Jangan putus asa, Luke.” Ucapku memegang pundak Luke, berusaha menyemangatinya.
Tiba-tiba mata Luke membulat sempurna lalu dia bangun dari sofa dan berteriak, “Aku punya ide.”
“Aku akan coba hubungi pihak kepolisian lewat telepon umum.” Ucapnya, lalu berlari mencari telpon umum, aku mengikutinya dari belakang.
“Punya uang koin kecil ?” Tanyanya ketika berhasil menemukan telepon umum. Aku mengangguk lalu memberikannya beberapa uang koin. Aku menunggunya di luar bilik telepon. Tak lama kemudian Luke muncul.
“Aku sudah telepon polisi.” Jawabnya singkat dengan nada yang pelan.
“Lalu ?”
“Mereka bilang kalau ada sesorang yang hilang sebelum 24 jam, belum bisa dilapokan hilang.” Jelasnya.
“Lalu ?” Aku kembali menanyakannya hal yang sama.
“Steph kan belum hilang selama 24 jam, jadi kita belum bisa dibantu polisi.” Jawabnya lesu.
“Tapi kan ada bukti jaket Steph yang berdarah. Jaket Steph merupakan bukti bahwa ini merupakan kasus penculikan. Dia berusaha melawan penculiknya hingga terluka. Ini buktinya.” Ucapku sambil mengacung-acungkan jaket milik Steph.
“Iya, itulah yang aku sampaikan ke polisi. Tapi, mereka tetap menolaknya dan menyuruh kita menunggu sampai besok. Kita baru bisa mencari Steph dengan bantuan polisi besok.” Jelas Luke.
            Kami terdiam sejenak berusaha memikirkan langkah mencari Steph berikutnya.
            Jujur. Aku juga sangat takut. Apalagi Steph.
            Aku harus memikirkan rencana untuk menyelamatkan Steph.
            Baiklah. Jika polisi belum bisa mencari Steph, akan aku cari sendiri.
            Siap-siap para penjahat. Karena, Secret Mission milikku baru saja dimulai.

 


           











1 comment:

 
@Najma