Sunday, January 25, 2015

THE DECIDER - Part 1

Emma and Ed's camping tent 



"Hidup penuh dengan pilihan. Kau hanya perlu memilih yang terbaik"
#1

SINAR matahari pagi bergerak masuk di balik pelupuk mata seorang gadis yang terlelap tidur. Perlahan dia membuka matanya dan menghela napas pelan. Another boring Saturday, batinnya. Dia bergerak bangun dari tempat tidurnya dan melihat kearah jam dinding. Jam dinding tuanya itu menunjukan jarum pendek ke angka tujuh. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi dan membiarkan air dingin membersihkan badannya.

Setelah selesai mandi, ia bergegas turun ke bawah dan membuat roti isi untuk mengisi perutnya yang lapar.

“Selamat pagi, Emma.” Suara lelaki berusia remaja itu menggema diseluruh ruangan.

Gadis yang sedang membuat roti isi itu pun menoleh kearahnya seraya terseyum.

“Pagi, Kak Ed.” Edward berjalan ke sampingnya dan membantu adik kecilnya membuat sarapan. Tak lama dari kedatangan Edward di dapur, menyusul remaja kuliahan berambut coklat, bergabung dengan kedua adiknya.

“Morning, Emma dan Ed!” Dengan gembira, gadis berambut coklat itu memasuki dapur lalu membuka kulkas dan mengambil susu dingin. Mereka semua akhirnya menarik kursi dan duduk dengan tertib sebari memakan sarapan masing-masing.

“Kapan ayah dan ibu pulang, Kak Em?” Tanya Emma sambil menyantap roti isinya. Ibu dan ayahnya baru saja pergi ke Jepang kemarin lusa dengan alasan pekerjaan mendadak.

“Katanya minggu depan. Nanti siang Bi Rere akan datang untuk membantu kita membersihkan rumah.” Jawab Kak Emily, lalu menyantap omeletnya. Emma mengangguk mengerti. Ia berpikir keras. Apa yang harus aku lakukan dihari Sabtu membosankan ini? batinnya. Kemudian ia menoleh kearah bingkai foto yang berdiri rapih di lemari televisi mereka.

Terdapat foto ibu, ayah, Emma, Emily, dan Edward didalam bingkai foto coklat itu. Dirinya pun tersenyum ketika mengingat kembali kenangan foto itu. Ia masih bisa mengingat jelas kapan foto itu diambil. Emma masih umur tujuh tahun, Edward sembilan tahun dan Emily sebelas tahun. Waktu itu mereka berlima sedang berkemah di hutan. Memang seperti sudah berabad-abad mereka tidak berkemah lagi.

Terakhir kalinya mereka bermalam di hutan adalah delapan tahun yang lalu. Wajar saja jika Emma sangat merindukan hari-hari itu. Foto ini tiba-tiba memberikan Emma ide cemerlang untuk mengisi kekosongan hari liburnya.

“Hari ini kan Hari Sabtu, terus kita tidak melakukan apa-apa sedangkan ayah dan ibu berpose di depan gunung Fuji. Bagaimana jika kita bertiga berkemah?” Usul Emma antusias sambil tersenyum lebar. Emily dan Edward berhenti menyantap sarapan mereka lalu menoleh ke arah Emma.

“Kau tidak ingat apa yang ibu bilang kemarin lusa?” Tanya Edward mengingatkan adiknya perkataan ibu mereka kemarin. Emma menggeleng. Edward memutar bola matanya,

“Ibu bilang kita tidak boleh pergi kemana-mana kecuali supermarket dan sekolah.” Emma hanya menatap kedua kakaknya dengan muka memelas.

“Ayolah …” Emma kembali memelas. Tapi Emily tetap menggeleng,  “Kita tidak boleh berkemah adik kecil. Itu keputusan terakhir. Aku tidak mau dimarahi ibu hanya karena bermalam di hutan.” Ucap Emily tegas lalu membawa piring kotornya ketempat cucian. Emma dan Edward menyusul Emily ke dapur, menyuci piring kotor mereka masing-masing. 

“Oh ayolah! Hanya untuk satu malam saja! Masa kalian tidak mau melihat keindahan alam dan matahari terbenam di atas danau? Aku juga tau pasti kalian sangat ingin berkemah. Ini pasti akan menjadi perkemahan terbaik diseluruh hidup kita! Kita bisa saja berbohong pada ibu! Benarkan?” Ajak Emma, masih saja membujuk kedua kakaknya.

“Bagaimana kalau Bi Rere tau? Bi Rere kan datang nanti siang. Kalau ia melaporkan kita kepada ibu, gimana?” Emma menyeringai kecil.

“Itu sih urusan kecil. Kita akan pergi sehabis Bi Rere pulang.” Emily masih menggeleng kepalanya tidak setuju. Emma melirik Edward. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Ia lalu berbalik menatap Emma,

“Aku ikut.” Ucapnya, mengangguk. Emily terlihat terkejut mendengar Ed setuju dengan ide Emma. Ia menoleh ke arah Ed dan menaikkan kedua alisnya, meminta penjelasan dari adiknya. Ed memutar bola matanya,

“Oh ayolah, Kak. Kita kan sudah lama tidak berkemah. Lagi pula ini liburan musim panas dan kita tidak melakukan apapun. Aku tidak mau membusuk di rumah.” Ucap Ed, tersenyum lebar menunjukkan giginya. Emily memutar bola matanya juga, mengikuti gerakan Ed tadi,

“Terserah kalian, jika mau dimarahi oleh ibu. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan ikut kalian. Selamat bersenang-senang bermalam bersama nyamuk di hutan.” Ucap Emily tak peduli lalu pergi kembali ke kamarnya. Ed kembali menatap Emma.

“Sebaiknya ini harus menjadi perkemahan terbaik dihidupku. Aku tidak mau dimarahi oleh ibu karena hal yang sia-sia.” Ucapnya mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Emma.

“Serahkan saja semuanya padaku.” Balas Emma, mengangguk percaya diri. Kalau saja dia tau apa yang akan terjadi. Siang telah tiba, akhirnya Bi Rere datang dan melakukan pekerjaannya. Ternyata Bi Rere pulang lebih malam dari yang mereka perkirakan.

Walaupun begitu, hal ini tidak menghalangi rencana Emma dan Ed untuk berkemah. Emma dan Ed dengan bersamaan keluar dari pintu kamar mereka masing-masing dengan membawa tas kemah, tenda dan keperluan lainnya. Dengan jaket yang melingkar di pinggangnya, Ed berjalan memasuki dapur dan membawa mereka bekal makanan dan peralatan masak seperlunya. Ia menoleh ke arah Emma yang terlihat ribet memakai topi dan jaket kemah. Ia tertawa kecil melihat adiknya yang heboh itu.

“Kau tau kita mau ke hutan bukan ke kontes pakaian, kan?” Ledeknya kepada Emma. Emma memutar bola matanya,

“Aku juga tau, bawel.” Ed terkekeh kecil sebelum melanjutkan menyiapkan bekal mereka. Setelah siap, mereka mengetuk pintu kamar Emily. Emily keluar dengan wajah malasnya,

“Apa lagi?” “Kau yakin tidak mau ikut bersama kami?” Tanya Emma yang sekian kalinya hari ini.

“Sudah kubilang. Aku tidak akan ikut. Lagian ini sudah malam. Ingat, kalian harus pulang besok sebelum jam Sembilan pagi.” Emily langsung menutup pintunya setelah menolak ajakan Emma. Emma bertukar pandang dengan Ed. Ed hanya mengendikkan bahunya tak mengerti dengan mood Emily yang buruk. Setelah mengunci pintu rumah, Emma dan Ed pergi berjalan menuju hutan yang gelap.

*

“Kurasa ini ide yang buruk. Kulitku telah dipenuhi oleh gigitan nyamuk.” Gerutu Ed ketika ia merasakan kulitnya gatal digigit nyamuk.

Sudah 20 menit mereka berjalan kaki dari rumah. Jarak hutan dan rumah mereka memang tidak terlalu jauh. Hanya berjarak beberapa blok dari barisan rumah mereka. Walaupun jaraknya lumayan dekat, suhu udara di malam hari tidak begitu mendukung mereka. Hawanya yang lembab dan dingin menyebabkan banyak nyamuk yang keluar dari sarangnya.

“Kau tau dimana letak hutannya?”

“Serahkan semuanya padaku, Kak. Kau tak usah khawatir. Sebentar lagi kita sampai. Pakai saja jaketmu agar tidak digigit nyamuk.” Ucap Emma enteng. Sinar remang-remang lampu jalanan menerangi jalan mereka.

Matahari sebentar lagi terbenam di arah barat, meninggalkan mereka berdua larut dalam kegelapan. Ed masih terlihat ragu-ragu dengan ide berbahaya adiknya ini. Dia sangat ingin berkemah, tapi dia juga tidak mau dimarahi ibunya. Entah mengapa, Ed memutuskan untuk diam di sepanjang jalan mereka. Mungkin ia ingin menyimpan energinya untuk berkemah nanti. Atau mungkin ia sedang menyesali perbuatannya ini.

“Ini dia. Kita sampai. Kita harus melompat untuk sampai di balik pagar ini.” Mereka berhenti di depan pagar kawat. Terlihat banyak pepohonan di balik pagar kawat itu. Ed menurunkan kedua alisnya heran. Ia menoleh ke sebelah kanan.

“Mengapa kita harus melompati pagar jika ada gerbang masuk ke hutan di sebelah sana?” Tanya Ed, menunjuk ke arah gerbang yang bertuliskan “HUTAN PERKEMAHAN SAN RONALD”. Emma memutar bola matanya.

“Kita tidak bisa masuk ke sana tanpa Emily karena kita belum cukup umur untuk memasuki hutan itu sendirian. Pasti para penjaga tidak akan membiarkan kita masuk. Lagi pula bayarnya mahal. Untuk apa bayar mahal jika bisa menyelinap masuk?” Ucap Emma, menyeringai lebar.

“Jadi maksudmu kita harus menyelinap masuk?”

“Seperti itulah.” Jawab Emma singkat lalu mulai memanjat pagar. Ia berhasil melompati pagar dan sampai di dalam hutan.

“Kau ikut atau tidak?” Tanya Emma, melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ed menggeleng,

“Kau sudah hilang pikiran, Emma.”

“Kita sudah setengah jalan, Kak Ed. Maaf, tidak ada waktu untuk kembali.”

“Aku tidak akan menyelinap masuk.”

“Terserah kau saja.” Emma membenarkan tas punggungnya dan berjalan ke dalam hutan menjauhi Ed. Ed menghela napas mengalah dan ikut memanjat pagar lalu melompatinya. Ia berjalan masuk ke dalam hutan mengikuti adiknya. Jalan di hutan sedikit basah sisa-sisa hujan tadi sore. Banyak sekali nyamuk-nyamuk penghisap darah yang berterbangan di sekitar mereka. Terdengar suara jangkrik di sana-sini. Hawa di hutan menjadi dingin, menyebabkan Ed dan Emma mengencangkan jaket mereka. Walaupun begitu, hal ini sama sekali tidak menghalangi mereka untuk berkemah.

“Aku masih merasa bahwa ini ide yang buruk.” Ed menggeleng-gelengkan kepalanya tepat ketika mereka sampai ditengah hutan.

“Lalu mengapa kau ikut denganku?” Ledek Emma, menyeringai.

“Aku tak punya pilihan. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di hutan. Kau tanggung jawabku.” Balas Ed, memutar bola matanya. Emma tersenyum mendengar kepedulian kakaknya. Tak lama, langkahan kaki Emma berhenti tepat ketika ia melihat danau. Emma tersenyum lalu menoleh kearah Ed,

“Kau membawa tenda punyamu dan kantung tidurmu kan?” Ed mengangguk.

“Keluarkan tendamu, kita akan bermalam disini.” Emma juga mengeluarkan kantung tidur dan tendanya. Tanpa basa-basi, ia membangun tendanya bersama Ed. Emma mengumpulkan kayu dan membakarnya agar mereka mendapat kehangatan disepanjang malam.

 “Sepertinya persediaan kayu bakar kita menipis.” Ujar Emma ketika melihat kayu bakar yang mulai habis.

“Kau mau aku untuk mengambilnya?” Tawar Ed. Emma menggeleng,

“Tidak perlu, aku bisa. Aku butuh kau menangkap ikan untuk makan malam kita nanti.” Emma bangun dari tempat duduknya, membawa ransel kecilnya dan kembali berjalan ke dalam hutan.

*

Cahaya bulan menemani Emma mencari kayu bakar. Hewan-hewan malam mulai keluar untuk mencari mangsanya. Hawa di hutan menjadi semakin dingin dan lembab. Tidak seperti yang diperkirakan oleh Emma. Dia masih berjalan mencari kayu bakar.

Entah sudah berapa lama ia mencari, tapi yang pasti Emma masih merasa belum cukup mendapat kayu bakar. Tepat ketika dia berjalan di bawah pohon besar, Emma mendengar suara yang aneh. Suaranya seperti dentuman drum. Suara itu terus-menerus berbunyi dengan jeda teratur. Emma, yang merasa aneh dengan suara itu, mendekatkan dirinya kearah asal suara itu. Emma mengerutkan keningnya ketika menemukan asal suara itu. Sebuah bola kecil. Suara itu berasal dari sebuah bola kecil yang dilapisi alumunium? Entahlah. Yang pasti itu bukan bola biasa. Suara itu berhenti. Apa mungkin karena Emma? Emma semakin penasaran dengan sebuah bola yang tidak biasa ini. Perlahan ia menggerakkan tangannya kearah benda itu.

“Apa yang kaulakukan?” Tiba-tiba suara Ed bergeming dibalik punggung Emma. Spontan Emma menarik kembali tangannya dan membalikkan punggungnya.

“Tidak ada.” Tangkasnya cepat.

“Aku mencarimu kemana-mana. Kau seharusnya sudah balik ke tenda 10 menit yang lalu. Ayo cepat kembali, aku akan memasak untuk makan malam.” Ed kembali berjalan keluar dari hutan menuju danau. Sesaat sebelum Emma kembali, ia melirik ke tempat bola aneh tadi. Entah darimana datangnya, tiba-tiba Emma melihat sebatang pipa bewarna besi tergeletak disebelah bola itu.

“Emma! Cepat makan malam!” Teriak Ed yang berjarak hanya beberapa meter jauh darinya. Dengan cepat Emma mengambil bola dan pipa itu dan memasukannya ke dalam ransel kecil miliknya.

“Aku datang, Kak!” Setelah menyantap makan malam mereka, Emma dan Ed duduk berdampingan menatap danau yang indah di depan mereka. Kesunyian malam mengisi telinga mereka. Tidak ada yang berbicara, mereka tidak bergeming. Mereka hanya menikmati malam yang indah ini. Danau memantulkan sinar bulan, dasar danau pun terlihat jelas oleh mereka berdua. Kenikmatan memandang keindahan alam itu tak berlangsung lama. Emma kembali mendengar suara dentuman drum itu lagi. Tapi ternyata, bukan hanya Emma yang mendengar suara itu. Ed juga mendengarnya. 

“Suara apa itu?” Tanya Ed heran, memandang sekelilingnya, berusaha mencari darimana suara itu berasal. Emma menghetahui darimana suara itu pasti berasal; bola alumunium aneh tadi. Tapi, dia berusaha untuk diam dan tidak memberi tau Ed.

“Suara apa? Aku tidak mendengarnya.” Bohong Emma. Ed berdiri dan mengikuti darimana suara itu berasal. Tas ransel kecil Emma. Dengan penuh hati-hati, Ed berusaha untuk membuka resleting ransel Emma. Yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak terduga, ransel itu melayang sebelum Ed bisa membuka ransel itu sepenuhnya. Ransel itu melayang ke udara.

“Ed, apa yang terjadi?” Tanya Emma sudah mulai panik. Wajah mereka memucat, mata mereka masih melekat melihat ransel melayang itu. Hal ini mustahil untuk terjadi. Mereka kembali terdiam ketika mengetahui bahwa suara dentuman drum itu lenyap. Lenyap begitu saja.

“Ed?” Emma semakin panik dan mengikat lengannya dengan lengan Ed. Mereka diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ed menatap ransel itu dengan penuh keheranan dan ketakutan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ransel itu jatuh. Hanya saja, bola alumunium itu tetap melayang sejauh lima meter di atas kepala Ed.

Perlahan cangkang alumunium bola itu terbuka dan bola itu membelah menjadi dua bagian. Sinar biru transparan yang tak dikenal keluar dari dalam bola itu dan membentuk semacam pintu portal. Emma dan Ed tak tau apa yang terjadi selanjutnya, hanya saja mereka tertarik masuk ke dalam portal itu tanpa sepengetahuan mereka.

*

Emma masih menganggap ini semua kesalahannya. Mungkin jika dia tidak mengajak Ed ke perkemahan, hal ini tidak terjadi. Mungkin jika dia tidak mengambil bola aneh itu, hal ini tidak akan terjadi. Entah bagaimana, Emma sudah terlentang di tempat yang tak dikenal. Mata Emma menerjap beberapa kali sebelum membuka kelopak matanya untuk sepenuhnya. Emma bergerak duduk dan melihat keadaan sekelilingnya. Dia kaget. Sangat kaget ketika mengetahui bahwa dirinya bukan di bumi lagi. Ini dimensi lain. Dimesi yang sangat berbeda.



No comments:

Post a Comment

 
@Najma