Wednesday, July 27, 2016

SCRIPT FOR ENGLISH DRAMA
BASED ON A STORY:
“ALICE IN WONDERLAND”


GROUP 1 – CLASS 8C

WRITTEN BY: NAJMA ASSHIDDIQIE
Cast
1.
Zaky Pahla Arianto as Narrator
2.
Lintang Aulia Wijaya as Alice
3.
Najma Asshiddiqie as Evil Red Queen
4.
Zahran Alfarisi as The Hatter
5.
Sasha Aulia as White Queen
6.
Farrel Naufalariq as Knave of Hearts
7.
Yasmin Hanna Azizah as White Rabbit
8.
Aulia Zayna as Lorina
9.
Adji Muhammad Fadilla as The Caterpillar
10.
Trully Rizqy as Tweedledee
11.
Fahrurozi Sjachulie as Tweedledum
12.
Hanna Salimatul Ummah as Viona
13.
Poppy Antika as Solider/Guard
14.
Fathan Mushafa as Solider/Guard
15.
M. Arifal Putra as Soldier/Guard






CHAPTER ONE
Once, there lived a beautiful girl named Alice. She sat under a tree with her elder sister—Lorina—who was reading a thick book. But, Alice was feeling really bored.
Alice: Lorina, I am bored, there is nothing to do.
Lorina: It is such a lovely day. Why don’t you sit with me under the tree and read your book?
Alice: My book is silly. It is all about a silly rabbit that can talks.
Lorina: (Yawn and stretches) I think I will go for a nap. (She falls asleep and Alice tries to read her book).
(Suddenly, there comes a White Rabbit running across the tree. He is in panic and looking at his watch)
White Rabbit: I’m late, I’m late! (He run passes Alice).
Alice: (Furrow her eyebrows in confuse) was that a talking rabbit? I think I should follow him. Mr. White Rabbit! Mr. White Rabbit! Please wait for me! (She runs after him)
[IN THE RABBIT HOLE]
Alice: Oh my goodness! I’m falling! I’m falling! Somebody help me!
(She falls and then stops suddenly. She land in a curious hall with a small locked door)
Alice: What is this place? Is someone here? Hellooo?
Alice: I can see a beautiful garden through the key hole. But the door is too small. How can I get in?
(She searches for something. There’s a key on the table. But the door is too small. Beside the key is a bottle that says “DRINK ME”)
(She drinks it and her body is shrinking. She became smaller. But she can’t reach the key that on the table)
Alice: And now I’m too small. I can’t reach the key.
(She looks for something else and finally found a cake that says “EAT ME”. She eats it and her body becomes bigger so now she can reach the key. She walks to the small door)
Alice: This is just a dream, Alice.
(She opens the door and steps through.)
Alice: What is this place?
White Rabbit: Welcome to Wonderland, Alice.
Alice: Wonderland? But, I thought Wonderland never exist. Wonderland it’s just the part of my book.
Tweedledee: It is exists, Alice.
Tweedledum: No it is not, Alice.
Tweedledee: It is.
Tweedledum : It isn’t.
Tweedledee: What do you think is this place iit is not called Wonderland?
Tweedledum: I didn’t say it is not called Wonderland.
Tweedledee: Yes, you did!
Tweedledum: No, I did not!
White Rabbit: Stop it! Both of you! (They stop and look towards white rabbit again) Tweedledee and Tweedledum, meet Alice.
Tweedledee: Hi, I’m Tweedledee
Tweedledum: No, Alice, I’m Tweedledum. He is Twedleedee
Tweedledee: That’s what I said!
Tweedledum: No, you didn’t say that!
White Rabbit: Quit arguing both of you! (They stop arguing) Now, Alice, the reason we need you here is to save our land from the curse of the Evil Red Queen.
Alice: Me? Why me?
White Rabbit: Because you are the only one who can save us. You are the only one that believes on Wonderland.
Alice: What should I do?
White Rabbit: You have to take the Evil Red Queen’s crown and crash it.
Alice: How could I find the Evil Red Queen?
White Rabbit: You must visit the CaterpillarTweedledee andTweedledum will help you
CHAPTER TWO
(They travel until they arrive at the caterpillar’s house)
[AT THE CATERPILLAR’S HOUSE]
Alice: We come here to find out where the Evil Red Queen is?
Caterpillar: Are you Alice? (Blows a smoke)
Alice: Yes, I am.
Caterpillar: I’ll show you. Tweedledee and Tweedledum, you may go home now.
(They travel to search for the Hatter’s house)
[AT THE HATTER’S HOUSE]
The Hatter: Caterpillar! I haven’t seen you lately! Are you come to have tea party with me? Who is this? You brought a new friend, I see. (Look towards Alice)
Caterpillar: This is Alice. We need to bring her to the Evil Queen’s Castle. She has to break the curse.
The Hatter: Alice! I can help you. C’mon you can ride my hat with me. I’ll take her from here Caterpillar. (Alice nods)
[IN THE MAIN TIME]
The Knave of Hearts: My lady, I need to tell you something.
The Evil Red Queen: What is that, Knave?
Knave of Hearts: Our enemy, Alice has come.
Evil Red Queen: Who? (Ask angrily)
Knave of Hearts: Alice, My Lady.
Evil Red Queen: She comes to break the curse?! (Knave nods)
Evil Red Queen: (stand angrily) Find her! We need to find her immediately! Otherwise we will never rule this land! Release all of my soldiers! And find her! Bring her head to me!
Knave of Hearts:  Yes, My lady. (Walks away)
Evil Red Queen: (say to herself) she has to die or I shall not rule this land.
Evil Red Queen: I am thirsty. Viona! I want my drink!
All the Evil Red Queen’s soldiers were released to find her.However, Alice and the Hatter were safe. They were small and the Evil Red Queen’s soldiers didn’t see them. Alice and the Hatter found their way to the Evil Red Queen’s castle. The Evil Red Queen was panic when she saw Alice and the Hatter at her castle.
Evil Red Queen: Guards! Catch them!
Alice and the Hatter succeed to escape because they were small. The Hatter gave the guards a poison so they slept away. But soon, The Hatter magic drinks lose the magic. He and Alice grew back to the normal shape.
Evil Red Queen: Knave! Kill them!
(Knave almost catches Alice, but hatter saves her)
Hatter: Run, Alice! Run! Take her crown!
(Alice runs towards Evil Red Queen)
Evil Red Queen: You are not getting away so easily! (Fight with her) 
While they were fighting, Viona watched them. She wanted to help Alice but she was scared. Alice saw her and yelled at her.
Alice: Take her crown! I beg you to take her crown!
(Viona nod and take her crown)
Finally the Evil Red Queen was defeated and Alice came home.

Wednesday, January 28, 2015

THE SECRET MISSION - Part 1

Hiroshima Atomic Bomb Building

 Bab 1

Cahaya matahari terik memasuki celah kelopak mataku, suara kendaraan yang bising dan bau tempat sampah yang tidak sedap membuatku terbangun dari mimpi indahku.
Aku melihat ke kanan dan ke kiri, berusaha mengingatkan diri apa yang telah terjadi.
Aku mengusap kencang kelopak mataku dan akhirnya dapat  mengingat apa yang telah terjadi sebelum aku terlelap tidur.
“Miss ? Up ! Up !” Tiba-tiba ada pria berteriak kepadaku. Pria tua itu berambut putih keabu-abuan membawa sapu, dia mengayunkan tangannya ke atas dan ke bawah berulang-ulang kali, menyuruhku bagun dari tempat tidurku. Spontan aku berdiri tegak dan bergerak menjauhi tempat tidurku tadi. Pria tadi pun menggeser pintu tokonya. Aku melihat jam tanganku, ternyata sudah jam 10 pagi. Pantas saja toko sudah mulai berjualan.
Aku membersihkan bajuku yang terlihat kotor karena jalanan yang berdebu, lalu berjalan menjuju stasiun.
Oh Hi, namaku Abigail Smith, biasa dipanggil Abby atau Abs. Umurku 18 tahun. Hobiku travelling a.k.a jalan-jalan. Dengan hobiku ini, aku bisa mengetahui keadaan tempat lain dan mendapat banyak pengalaman berharga dari situ. Walaupu aku suka travelling, aku pasti selalu menghemat dalam pengluaran sehari-harinya. Contohnya tadi malam, hostel/motel-motel yang murah sudah penuh, jadi aku terpaksa tidur dijalan deh !  biasanya aku memang sudah merencanakan dimana tempat untuk menginap, tetapi 3 hariku di Tokyo ini, sangat tidak di rencanakan.
Setelah sampai di stasiun, aku langsung membeli air putih dan sepotong roti untuk sarapan. Harganya sangat murah hanya sekitar 150 yen. Aku mengabiskan rotiku dengan cepat dan berlari mengejar subway  jurusan Shibuya.
Pintu subway tertutup pas sesudah aku masuk. Aku langsung menempati kursi yang kosong bersebelahan dengan anak perempuan jepang. Dia melihatku lalu tersenyum. 
“Hi my name is Haruna.” Ucapnya berani sambil mengulurkan tangannya.
“Hello Haruna. My name is Abby. It’s nice to meet you.” Ucapku menjabat tangannya. Orang jepang memang ramah kepada siapa saja. Itu salah satunya penyebabku untuk datang ke Jepang lagi.
Haruna tersenyum, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke kursi subway. Aku kembali melihat ke jendela subway untuk menikmati betapa indahnya negeri sakura ini.
2 stasiun berlalu, akhirnya subway tiba juga stasiun tujuanku, Shibuya. Aku bergegas keluar dari kereta dan berjalan menuju patung Hatchiko, tempat pertemuan yang paling diminati di Jepang.
Setelah puas berfoto-foto bersama si patung  anak anjing bersejarah ini, aku pergi membeli postcard 3D bergambar patung Hatchiko di toko buku di sekitar patung Hatchiko. Aku memang sangat suka mengoleksi postcard atau kartu pos dari sebuah daerah. Jadi, setiap aku mengunjungi suatu tempat, aku pasti menyempatkan diri untuk membeli satu lembar kartu posnya.
Setelah berbelanja, aku keluar dari toko buku itu, lalu mengecek handphoneku. Ternyata ada 1 SMS dari temanku.
From : Stephanie si anak emak <3
ABBBYYYYY SI ANAK BABEH !! AKU DI HATCHIKO !! DIMANA KAMUU ?
Received  : 10:56
To : Stephanie si anak emak <3
STEPHHHHHH SI ANAK EMAAAK BENTAR LAGI NYAMPE INI LAGI BELI POSTCARD ! BIASAA…. :D SEBENTAR LAGI AKU DI SANA TUNGGU SAJA !! J
Sent : 10:58

Melihat pesan dari steph, teman kecilku, aku langsung bergegas kembali ke patung Hatchiko dan mencarinya disana.
Suasana di patung Hatchiko pada pagi ini sangat ramai, mencari Steph pun menjadi lebih rumit. Aku memutuskan untuk meneleponnya dan bertemu tepat di depan patung Hatchiko. Tak beberapa lama, Steph muncul dengan remaja pria berambut coklat, tubuhnya yang tinggi membantu steph mengangkat barang belanjaan bawaannya.
“ABBYYY !!” sorak Steph dari jauh.
“STEPH !!” Sorakku sambil memeluk badan mungilnya dengan erat. Sudah lama sekali aku tidak merasakan pelukan hangatku bersama Steph. Aku dan Steph adalah teman lama, hobiku dan hobi Steph sama, yaitu travelling. Kebetulan Steph juga sedang mengunjungi Tokyo, jadi ia memutuskan untuk menemuiku di Shibuya.
“Abs, ini kakakku, Lucas Johnshon.” Ucap Steph memperkenalkkanku dengan lelaki berambut coklat tadi.
“Panggil aku Luke saja. Senang bertemu denganmu.” Dia tersenyum sambil mengulurkan tangan kanan gagahnya.
“Albigail Smith. Panggil aku Abby atau Abs. Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu, Luke.”  Aku ikut tersenyum dan menjabat tangannya.
“Abby, apakah kau keberatan jika kakakku pergi bersama kita ? Sudah kubilang, kau seharusnya diam di rumah. Kau ini merepotkan saja.” Ucap Steph mengacungkan jari telunjuknya ke arah Luke lalu menyilangkan kedua lengannya.
“Kau justru yang merepotkan, barang belanjaanmu saja aku yang bawa.” Bantah Luke tidak mau kalah. Lucu sekali rasanya melihat mereka yang bertengkar. Karena aku adalah anak tunggal, melihat adik-kakak seperti ini membuatku bersemangat untuk mengelilingi kota ini bersama mereka.
“Sudahlah.. tidak apa-apa jika kalian ikut bersamaku. Aku tidak keberatan selama kalian tidak membunuh satu sama lain karena bertengkar.” Ucapku, setengah terkikik sambil memeluk mereka berdua.
“Tenang saja, abs. Aku tidak akan membunuh adik kecilku ini. Kalau dia tidak ada, nanti rumahku jadi sepi karena tidak ada yang mengoceh lagi.” Canda Luke menyubit pipi adik kecilnya.
“Aku bukan ‘adik kecilmu’ kau hanya berbeda 2 bulan dariku.” Ucap Steph memajukan bibir bawahnya lalu berjalan memasuki stasiun Shibuya. Aku dan Luke hanya tertawa dan mengikutinya dari belakang. Sesaat ketika aku sedang asyik tertawa, aku merasa ada seseorang yang mengikuti kami dari belakang, ketika aku menoleh ternyata tidak ada. Mungkin hanya perasaanku saja ya ?
Benar kan ?


 


“Kakak ! Ayo pergi beli ice cream duluuuuu.” Pinta Steph menarik-narik lengan kakaknya.
            “Gak mauuuuu ! Aku kehabisan uang, dari tadi kau terus-terusan meminta uang.” Ucap Luke, berusaha melepaskan tangan adiknya.
            “Tapi aku haus, cuaca di Hiroshima sangatlah panas !” Steph belum menyerah membujuk kakaknya. Aku hanya tertawa pelan sambil berjalan mengikuti mereka.
            Siang ini, aku, Steph, dan Luke sedang berjalan-jalan mengelilingi kota bersejarah di Jepang yaitu Hiroshima. Kota ini hancur diserang bom atom pada tanggal 6 Agustus 1945 hampir bersamaan dengan kota lain di Jepang, yaitu Nagasaki. Di kota ini terdapat tren yang dapat membantu para pengunjung untuk mengelilingi Hiroshima. Sekarang kami sedang berada di salah satu gedung yang berhasil selamat dari serangan bom atom. Gedung ini sengaja tidak di renovasi atau dibetulkan kembali. Tujuannya agar dapat dijadikan sejarah penting bagi seluruh umat manusia.
Aku, Steph dan Luke asyik mengabadikan momen penting ini. Steph bertugas untuk merekam, aku dan Luke bertugas menjepret photo. Rencananya, video dan photo-photo ini, akan kami masukan ke blog kami agar bisa dilihat oleh traveler lainnya.
Setelah puas menjepret sana-sini, seperti biasa, kami pergi ke toko yang menjual post card dan membeli post card bergambar gedung bersejarah di Hiroshima. Setelah selesai berbelanja, kami memutuskan untuk beristirahat sambil makan siang sejenak di bawah pohon. Entah mengapa, lagi-lagi, aku merasakan ada yang mengawasi kami, dan lagi-lagi pula, dugaanku salah.
“Steph, Luke, apakah kalian merasa ada yang mengawasi kita ?” Aku bertanya setengah berbisik.
“Tidak.” Jawab Steph singkat dengan mulut penuh dengan kunyahan roti sandwich.
“Bagaimana denganmu Luke ?” Aku bertanya kepadanya, mungkin saja dia merasakan hal yang sama
“Hayalanmu saja itu.” Jawab Luke sambil mengambil botol minumya lalu meneguknya perlahan.
Apakah benar ini hanya hayalanku ?
Mungkin Luke benar.
Aku menggelengkan kepalaku dan membuang segala pikiran anehku, lalu melahap makan siangku.
“Kak, Abs, aku mau ke toilet dulu, ya. Jangan ditinggalin. Awas lho, ya.” Ucap Steph setengah mengancam, lalu berlari menuju toilet terdekat. Aku tertawa kecil, lalu melanjutkan makan siangku sambil mengobrol bersama Luke. Luke orangnya lucu, ramah dan juga penyayang, apalagi dengan adiknya. Hobinya menulis dan main basket, umurnya 18 tahun, sama seperti aku dan Steph, hanya saja Luke lahir bulan Februari, sedangkan aku dan Steph lahir dibulan Mei.
Tak terasa, aku dan Luke sudah 45 menit mengobrol, tetapi Steph belum keluar dari toilet juga. Tentu saja aku menjadi khawatir. Tapi, Luke menenangkan diriku. Katanya Steph memang lama kalau buang air kecil di toilet umum. Aku pun mengangguk setuju lalu kembali duduk dengan tenang.
Satu jam lebih lima belas menit berlalu, lagi-lagi Steph belum keluar dari toilet. Aku mulai panik dan bertekad untuk menyusul Steph ke toilet ditemani Luke.
“Steph ?? Dimana kau ?” Hening, tidak ada jawaban. Aku berjalan pelan membuka pintu pertama, ternyata kosong.
Bilik kedua, kosong.
Bilik ketiga, kosong juga.
Bilik keempat….. kosong !
Dimana dia ?!
Aku melihat telepon Steph tergeletak di lantai bilik terakhir. Aku mengambilnya lalu berlari panik keluar dari toilet lalu memaggil Luke. Luke bergegas datang menghampiriku lalu menanyakan apa yang terjadi.
“Dimana Steph ?” tanyanya khawatir.
“Steph hilang ! Steph hilang, Luke ! Aku hanya menemukan teleponnya…” Ucapku menangis, lalu meletakkan telepon Steph di tangan Luke.
“Baiklah kau tunggu di sini. Aku akan mencarinya.” Luke berlari meninggalkan aku sendirian berama barang bawaan kami.
Sudah kuduga. Pasti ada yang mengikuti kami ! Tapi Steph dan Luke tidak percaya !
 Aku berhenti menangis ketika akhirnya melihat Luke muncul dengan jaket Steph yang penuh darah.
“Aku tidak menemukan Steph, tapi aku menemukan jaketnya di pinggir sungai.” Ucap Luke lesu sambil menunjukkan jaket  Steph.
“Bagaimana ini..?” tanyaku, mengusap air mata di pipiku.
“Entahlah… aku sudah mencoba mengubungi kepolisian tapi Handphoneku tidak memiliki pulsa, Handphone Steph baterainya habis, bagaimana dengan HP milikmu ?” Tanya Luke. Aku mengambil HP milikku lalu mengecek pulsanya. Nihil. Pulsaku terkuras habis setelah melepon Steph waktu di Shibuya.
“Pulsaku juga habis. Kita mesti gimana ?”
 “Ayo kita coba memanggilnya lewat spiker. Sebaiknya kau iku aku.” Ucapnya membantuku berdiri.
Aku dan Luke langsung berjalan menuju bagian informasi turis.
“PERHATIAN. BAGI ANDA YANG BERNAMA STEPHANIE JOHNSHON. ATAU ANDA YANG MELIHAT GADIS BERUMUR 18 TAHUN  BERAMBUT IKAL PANJANG BERWARNA COKLAT, MEMAKAI CELANA JEANS HITAM, BAJU HIJAU BERCORAK BUNGA MERAH, DAN MEMAKAI SEPATU HIGH HEELS, SILAHKAN HUBUNGI KAMI DI RUANG INFORMASI TURIS. TERIMAKASIH.” Ucap Luke mengumumkan dari mic ruang informasi turis ketika kami sampai di sana.
“Sekarang kita hanya tinggal menunggu kabar. Kuharap kita bisa menemukannya.” Ucap Luke putus asa lalu duduk di sofa dekatnya.
“Ayolah Luke jangan menyerah, kita tidak bisa diam duduk manis di sini saja ! kita harus meminta tolong polisi atau pergi mencarinya ! Steph masih diluar sana, ketakutan. Dia butuh pertolongan kita, Luke !” teriakku memohon kepadanya. Kita harus melakukan sesuatu selain berdoa dan menunggu. Luke menatapku lalu memainkan jemarinya.
“Entahlah Abs.. Aku takut.” Ucapnya pelan, hamper tidak terdengar.
“Ayolah kau pasti bisa. Kita pasti bisa menemukan Steph. Jangan putus asa, Luke.” Ucapku memegang pundak Luke, berusaha menyemangatinya.
Tiba-tiba mata Luke membulat sempurna lalu dia bangun dari sofa dan berteriak, “Aku punya ide.”
“Aku akan coba hubungi pihak kepolisian lewat telepon umum.” Ucapnya, lalu berlari mencari telpon umum, aku mengikutinya dari belakang.
“Punya uang koin kecil ?” Tanyanya ketika berhasil menemukan telepon umum. Aku mengangguk lalu memberikannya beberapa uang koin. Aku menunggunya di luar bilik telepon. Tak lama kemudian Luke muncul.
“Aku sudah telepon polisi.” Jawabnya singkat dengan nada yang pelan.
“Lalu ?”
“Mereka bilang kalau ada sesorang yang hilang sebelum 24 jam, belum bisa dilapokan hilang.” Jelasnya.
“Lalu ?” Aku kembali menanyakannya hal yang sama.
“Steph kan belum hilang selama 24 jam, jadi kita belum bisa dibantu polisi.” Jawabnya lesu.
“Tapi kan ada bukti jaket Steph yang berdarah. Jaket Steph merupakan bukti bahwa ini merupakan kasus penculikan. Dia berusaha melawan penculiknya hingga terluka. Ini buktinya.” Ucapku sambil mengacung-acungkan jaket milik Steph.
“Iya, itulah yang aku sampaikan ke polisi. Tapi, mereka tetap menolaknya dan menyuruh kita menunggu sampai besok. Kita baru bisa mencari Steph dengan bantuan polisi besok.” Jelas Luke.
            Kami terdiam sejenak berusaha memikirkan langkah mencari Steph berikutnya.
            Jujur. Aku juga sangat takut. Apalagi Steph.
            Aku harus memikirkan rencana untuk menyelamatkan Steph.
            Baiklah. Jika polisi belum bisa mencari Steph, akan aku cari sendiri.
            Siap-siap para penjahat. Karena, Secret Mission milikku baru saja dimulai.

 


           











Sunday, January 25, 2015

THE DECIDER - Part 1

Emma and Ed's camping tent 



"Hidup penuh dengan pilihan. Kau hanya perlu memilih yang terbaik"
#1

SINAR matahari pagi bergerak masuk di balik pelupuk mata seorang gadis yang terlelap tidur. Perlahan dia membuka matanya dan menghela napas pelan. Another boring Saturday, batinnya. Dia bergerak bangun dari tempat tidurnya dan melihat kearah jam dinding. Jam dinding tuanya itu menunjukan jarum pendek ke angka tujuh. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi dan membiarkan air dingin membersihkan badannya.

Setelah selesai mandi, ia bergegas turun ke bawah dan membuat roti isi untuk mengisi perutnya yang lapar.

“Selamat pagi, Emma.” Suara lelaki berusia remaja itu menggema diseluruh ruangan.

Gadis yang sedang membuat roti isi itu pun menoleh kearahnya seraya terseyum.

“Pagi, Kak Ed.” Edward berjalan ke sampingnya dan membantu adik kecilnya membuat sarapan. Tak lama dari kedatangan Edward di dapur, menyusul remaja kuliahan berambut coklat, bergabung dengan kedua adiknya.

“Morning, Emma dan Ed!” Dengan gembira, gadis berambut coklat itu memasuki dapur lalu membuka kulkas dan mengambil susu dingin. Mereka semua akhirnya menarik kursi dan duduk dengan tertib sebari memakan sarapan masing-masing.

“Kapan ayah dan ibu pulang, Kak Em?” Tanya Emma sambil menyantap roti isinya. Ibu dan ayahnya baru saja pergi ke Jepang kemarin lusa dengan alasan pekerjaan mendadak.

“Katanya minggu depan. Nanti siang Bi Rere akan datang untuk membantu kita membersihkan rumah.” Jawab Kak Emily, lalu menyantap omeletnya. Emma mengangguk mengerti. Ia berpikir keras. Apa yang harus aku lakukan dihari Sabtu membosankan ini? batinnya. Kemudian ia menoleh kearah bingkai foto yang berdiri rapih di lemari televisi mereka.

Terdapat foto ibu, ayah, Emma, Emily, dan Edward didalam bingkai foto coklat itu. Dirinya pun tersenyum ketika mengingat kembali kenangan foto itu. Ia masih bisa mengingat jelas kapan foto itu diambil. Emma masih umur tujuh tahun, Edward sembilan tahun dan Emily sebelas tahun. Waktu itu mereka berlima sedang berkemah di hutan. Memang seperti sudah berabad-abad mereka tidak berkemah lagi.

Terakhir kalinya mereka bermalam di hutan adalah delapan tahun yang lalu. Wajar saja jika Emma sangat merindukan hari-hari itu. Foto ini tiba-tiba memberikan Emma ide cemerlang untuk mengisi kekosongan hari liburnya.

“Hari ini kan Hari Sabtu, terus kita tidak melakukan apa-apa sedangkan ayah dan ibu berpose di depan gunung Fuji. Bagaimana jika kita bertiga berkemah?” Usul Emma antusias sambil tersenyum lebar. Emily dan Edward berhenti menyantap sarapan mereka lalu menoleh ke arah Emma.

“Kau tidak ingat apa yang ibu bilang kemarin lusa?” Tanya Edward mengingatkan adiknya perkataan ibu mereka kemarin. Emma menggeleng. Edward memutar bola matanya,

“Ibu bilang kita tidak boleh pergi kemana-mana kecuali supermarket dan sekolah.” Emma hanya menatap kedua kakaknya dengan muka memelas.

“Ayolah …” Emma kembali memelas. Tapi Emily tetap menggeleng,  “Kita tidak boleh berkemah adik kecil. Itu keputusan terakhir. Aku tidak mau dimarahi ibu hanya karena bermalam di hutan.” Ucap Emily tegas lalu membawa piring kotornya ketempat cucian. Emma dan Edward menyusul Emily ke dapur, menyuci piring kotor mereka masing-masing. 

“Oh ayolah! Hanya untuk satu malam saja! Masa kalian tidak mau melihat keindahan alam dan matahari terbenam di atas danau? Aku juga tau pasti kalian sangat ingin berkemah. Ini pasti akan menjadi perkemahan terbaik diseluruh hidup kita! Kita bisa saja berbohong pada ibu! Benarkan?” Ajak Emma, masih saja membujuk kedua kakaknya.

“Bagaimana kalau Bi Rere tau? Bi Rere kan datang nanti siang. Kalau ia melaporkan kita kepada ibu, gimana?” Emma menyeringai kecil.

“Itu sih urusan kecil. Kita akan pergi sehabis Bi Rere pulang.” Emily masih menggeleng kepalanya tidak setuju. Emma melirik Edward. Tampaknya ia sedang berpikir keras. Ia lalu berbalik menatap Emma,

“Aku ikut.” Ucapnya, mengangguk. Emily terlihat terkejut mendengar Ed setuju dengan ide Emma. Ia menoleh ke arah Ed dan menaikkan kedua alisnya, meminta penjelasan dari adiknya. Ed memutar bola matanya,

“Oh ayolah, Kak. Kita kan sudah lama tidak berkemah. Lagi pula ini liburan musim panas dan kita tidak melakukan apapun. Aku tidak mau membusuk di rumah.” Ucap Ed, tersenyum lebar menunjukkan giginya. Emily memutar bola matanya juga, mengikuti gerakan Ed tadi,

“Terserah kalian, jika mau dimarahi oleh ibu. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan ikut kalian. Selamat bersenang-senang bermalam bersama nyamuk di hutan.” Ucap Emily tak peduli lalu pergi kembali ke kamarnya. Ed kembali menatap Emma.

“Sebaiknya ini harus menjadi perkemahan terbaik dihidupku. Aku tidak mau dimarahi oleh ibu karena hal yang sia-sia.” Ucapnya mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Emma.

“Serahkan saja semuanya padaku.” Balas Emma, mengangguk percaya diri. Kalau saja dia tau apa yang akan terjadi. Siang telah tiba, akhirnya Bi Rere datang dan melakukan pekerjaannya. Ternyata Bi Rere pulang lebih malam dari yang mereka perkirakan.

Walaupun begitu, hal ini tidak menghalangi rencana Emma dan Ed untuk berkemah. Emma dan Ed dengan bersamaan keluar dari pintu kamar mereka masing-masing dengan membawa tas kemah, tenda dan keperluan lainnya. Dengan jaket yang melingkar di pinggangnya, Ed berjalan memasuki dapur dan membawa mereka bekal makanan dan peralatan masak seperlunya. Ia menoleh ke arah Emma yang terlihat ribet memakai topi dan jaket kemah. Ia tertawa kecil melihat adiknya yang heboh itu.

“Kau tau kita mau ke hutan bukan ke kontes pakaian, kan?” Ledeknya kepada Emma. Emma memutar bola matanya,

“Aku juga tau, bawel.” Ed terkekeh kecil sebelum melanjutkan menyiapkan bekal mereka. Setelah siap, mereka mengetuk pintu kamar Emily. Emily keluar dengan wajah malasnya,

“Apa lagi?” “Kau yakin tidak mau ikut bersama kami?” Tanya Emma yang sekian kalinya hari ini.

“Sudah kubilang. Aku tidak akan ikut. Lagian ini sudah malam. Ingat, kalian harus pulang besok sebelum jam Sembilan pagi.” Emily langsung menutup pintunya setelah menolak ajakan Emma. Emma bertukar pandang dengan Ed. Ed hanya mengendikkan bahunya tak mengerti dengan mood Emily yang buruk. Setelah mengunci pintu rumah, Emma dan Ed pergi berjalan menuju hutan yang gelap.

*

“Kurasa ini ide yang buruk. Kulitku telah dipenuhi oleh gigitan nyamuk.” Gerutu Ed ketika ia merasakan kulitnya gatal digigit nyamuk.

Sudah 20 menit mereka berjalan kaki dari rumah. Jarak hutan dan rumah mereka memang tidak terlalu jauh. Hanya berjarak beberapa blok dari barisan rumah mereka. Walaupun jaraknya lumayan dekat, suhu udara di malam hari tidak begitu mendukung mereka. Hawanya yang lembab dan dingin menyebabkan banyak nyamuk yang keluar dari sarangnya.

“Kau tau dimana letak hutannya?”

“Serahkan semuanya padaku, Kak. Kau tak usah khawatir. Sebentar lagi kita sampai. Pakai saja jaketmu agar tidak digigit nyamuk.” Ucap Emma enteng. Sinar remang-remang lampu jalanan menerangi jalan mereka.

Matahari sebentar lagi terbenam di arah barat, meninggalkan mereka berdua larut dalam kegelapan. Ed masih terlihat ragu-ragu dengan ide berbahaya adiknya ini. Dia sangat ingin berkemah, tapi dia juga tidak mau dimarahi ibunya. Entah mengapa, Ed memutuskan untuk diam di sepanjang jalan mereka. Mungkin ia ingin menyimpan energinya untuk berkemah nanti. Atau mungkin ia sedang menyesali perbuatannya ini.

“Ini dia. Kita sampai. Kita harus melompat untuk sampai di balik pagar ini.” Mereka berhenti di depan pagar kawat. Terlihat banyak pepohonan di balik pagar kawat itu. Ed menurunkan kedua alisnya heran. Ia menoleh ke sebelah kanan.

“Mengapa kita harus melompati pagar jika ada gerbang masuk ke hutan di sebelah sana?” Tanya Ed, menunjuk ke arah gerbang yang bertuliskan “HUTAN PERKEMAHAN SAN RONALD”. Emma memutar bola matanya.

“Kita tidak bisa masuk ke sana tanpa Emily karena kita belum cukup umur untuk memasuki hutan itu sendirian. Pasti para penjaga tidak akan membiarkan kita masuk. Lagi pula bayarnya mahal. Untuk apa bayar mahal jika bisa menyelinap masuk?” Ucap Emma, menyeringai lebar.

“Jadi maksudmu kita harus menyelinap masuk?”

“Seperti itulah.” Jawab Emma singkat lalu mulai memanjat pagar. Ia berhasil melompati pagar dan sampai di dalam hutan.

“Kau ikut atau tidak?” Tanya Emma, melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ed menggeleng,

“Kau sudah hilang pikiran, Emma.”

“Kita sudah setengah jalan, Kak Ed. Maaf, tidak ada waktu untuk kembali.”

“Aku tidak akan menyelinap masuk.”

“Terserah kau saja.” Emma membenarkan tas punggungnya dan berjalan ke dalam hutan menjauhi Ed. Ed menghela napas mengalah dan ikut memanjat pagar lalu melompatinya. Ia berjalan masuk ke dalam hutan mengikuti adiknya. Jalan di hutan sedikit basah sisa-sisa hujan tadi sore. Banyak sekali nyamuk-nyamuk penghisap darah yang berterbangan di sekitar mereka. Terdengar suara jangkrik di sana-sini. Hawa di hutan menjadi dingin, menyebabkan Ed dan Emma mengencangkan jaket mereka. Walaupun begitu, hal ini sama sekali tidak menghalangi mereka untuk berkemah.

“Aku masih merasa bahwa ini ide yang buruk.” Ed menggeleng-gelengkan kepalanya tepat ketika mereka sampai ditengah hutan.

“Lalu mengapa kau ikut denganku?” Ledek Emma, menyeringai.

“Aku tak punya pilihan. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di hutan. Kau tanggung jawabku.” Balas Ed, memutar bola matanya. Emma tersenyum mendengar kepedulian kakaknya. Tak lama, langkahan kaki Emma berhenti tepat ketika ia melihat danau. Emma tersenyum lalu menoleh kearah Ed,

“Kau membawa tenda punyamu dan kantung tidurmu kan?” Ed mengangguk.

“Keluarkan tendamu, kita akan bermalam disini.” Emma juga mengeluarkan kantung tidur dan tendanya. Tanpa basa-basi, ia membangun tendanya bersama Ed. Emma mengumpulkan kayu dan membakarnya agar mereka mendapat kehangatan disepanjang malam.

 “Sepertinya persediaan kayu bakar kita menipis.” Ujar Emma ketika melihat kayu bakar yang mulai habis.

“Kau mau aku untuk mengambilnya?” Tawar Ed. Emma menggeleng,

“Tidak perlu, aku bisa. Aku butuh kau menangkap ikan untuk makan malam kita nanti.” Emma bangun dari tempat duduknya, membawa ransel kecilnya dan kembali berjalan ke dalam hutan.

*

Cahaya bulan menemani Emma mencari kayu bakar. Hewan-hewan malam mulai keluar untuk mencari mangsanya. Hawa di hutan menjadi semakin dingin dan lembab. Tidak seperti yang diperkirakan oleh Emma. Dia masih berjalan mencari kayu bakar.

Entah sudah berapa lama ia mencari, tapi yang pasti Emma masih merasa belum cukup mendapat kayu bakar. Tepat ketika dia berjalan di bawah pohon besar, Emma mendengar suara yang aneh. Suaranya seperti dentuman drum. Suara itu terus-menerus berbunyi dengan jeda teratur. Emma, yang merasa aneh dengan suara itu, mendekatkan dirinya kearah asal suara itu. Emma mengerutkan keningnya ketika menemukan asal suara itu. Sebuah bola kecil. Suara itu berasal dari sebuah bola kecil yang dilapisi alumunium? Entahlah. Yang pasti itu bukan bola biasa. Suara itu berhenti. Apa mungkin karena Emma? Emma semakin penasaran dengan sebuah bola yang tidak biasa ini. Perlahan ia menggerakkan tangannya kearah benda itu.

“Apa yang kaulakukan?” Tiba-tiba suara Ed bergeming dibalik punggung Emma. Spontan Emma menarik kembali tangannya dan membalikkan punggungnya.

“Tidak ada.” Tangkasnya cepat.

“Aku mencarimu kemana-mana. Kau seharusnya sudah balik ke tenda 10 menit yang lalu. Ayo cepat kembali, aku akan memasak untuk makan malam.” Ed kembali berjalan keluar dari hutan menuju danau. Sesaat sebelum Emma kembali, ia melirik ke tempat bola aneh tadi. Entah darimana datangnya, tiba-tiba Emma melihat sebatang pipa bewarna besi tergeletak disebelah bola itu.

“Emma! Cepat makan malam!” Teriak Ed yang berjarak hanya beberapa meter jauh darinya. Dengan cepat Emma mengambil bola dan pipa itu dan memasukannya ke dalam ransel kecil miliknya.

“Aku datang, Kak!” Setelah menyantap makan malam mereka, Emma dan Ed duduk berdampingan menatap danau yang indah di depan mereka. Kesunyian malam mengisi telinga mereka. Tidak ada yang berbicara, mereka tidak bergeming. Mereka hanya menikmati malam yang indah ini. Danau memantulkan sinar bulan, dasar danau pun terlihat jelas oleh mereka berdua. Kenikmatan memandang keindahan alam itu tak berlangsung lama. Emma kembali mendengar suara dentuman drum itu lagi. Tapi ternyata, bukan hanya Emma yang mendengar suara itu. Ed juga mendengarnya. 

“Suara apa itu?” Tanya Ed heran, memandang sekelilingnya, berusaha mencari darimana suara itu berasal. Emma menghetahui darimana suara itu pasti berasal; bola alumunium aneh tadi. Tapi, dia berusaha untuk diam dan tidak memberi tau Ed.

“Suara apa? Aku tidak mendengarnya.” Bohong Emma. Ed berdiri dan mengikuti darimana suara itu berasal. Tas ransel kecil Emma. Dengan penuh hati-hati, Ed berusaha untuk membuka resleting ransel Emma. Yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak terduga, ransel itu melayang sebelum Ed bisa membuka ransel itu sepenuhnya. Ransel itu melayang ke udara.

“Ed, apa yang terjadi?” Tanya Emma sudah mulai panik. Wajah mereka memucat, mata mereka masih melekat melihat ransel melayang itu. Hal ini mustahil untuk terjadi. Mereka kembali terdiam ketika mengetahui bahwa suara dentuman drum itu lenyap. Lenyap begitu saja.

“Ed?” Emma semakin panik dan mengikat lengannya dengan lengan Ed. Mereka diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ed menatap ransel itu dengan penuh keheranan dan ketakutan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ransel itu jatuh. Hanya saja, bola alumunium itu tetap melayang sejauh lima meter di atas kepala Ed.

Perlahan cangkang alumunium bola itu terbuka dan bola itu membelah menjadi dua bagian. Sinar biru transparan yang tak dikenal keluar dari dalam bola itu dan membentuk semacam pintu portal. Emma dan Ed tak tau apa yang terjadi selanjutnya, hanya saja mereka tertarik masuk ke dalam portal itu tanpa sepengetahuan mereka.

*

Emma masih menganggap ini semua kesalahannya. Mungkin jika dia tidak mengajak Ed ke perkemahan, hal ini tidak terjadi. Mungkin jika dia tidak mengambil bola aneh itu, hal ini tidak akan terjadi. Entah bagaimana, Emma sudah terlentang di tempat yang tak dikenal. Mata Emma menerjap beberapa kali sebelum membuka kelopak matanya untuk sepenuhnya. Emma bergerak duduk dan melihat keadaan sekelilingnya. Dia kaget. Sangat kaget ketika mengetahui bahwa dirinya bukan di bumi lagi. Ini dimensi lain. Dimesi yang sangat berbeda.



 
@Najma